Sistem Optik pada Mata

Mata merupakan salah satu alat optik yang paling penting bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Tanpa mata, manusia tidak akan bisa melihat betapa menakjubkannya alam semesta ini. Nah, bagaimana cara mata ini dapat menangkap bayangan obyek sehingga dapat diterjemahkan oleh otak sebagai gambar? Berikut ini akan dibahas mengenai sistem optik pada mata.

Mata terdiri dari beberapa bagian, yaitu kornea, iris, pupil, otot siliari, lensa, retina, dan saraf optik. Bagian-bagian mata ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Sumber: Buku IPA Kelas VIII Semester 2 Kemendikbud

Kornea mata adalah bagian depan mata yang memiliki lengkung lebih tajam yang dilapisi oleh selaput bening. Di belakang kornea terdapat cairan (aqueous humor). Cairan ini berfungsi untuk membiaskan cahaya yang masuk ke dalam mata. Masuk lebih dalam lagi terdapat terdapat selaput yang membentuk suatu celah lingkaran. Selaput inilah yang disebut iris dan berfungsi memberi warna pada mata. Di tengah-tengah iris terdapat sebuah celah kecil yang disebut pupil. Lebar pupil dikendalikan oleh iris sesuai dengan intensitas cahaya yang mengenainya. Jumlah cahaya yang memasuki mata dikendalikan oleh iris. Di bagian yang lebih dalam lagi terdapat lensa yang dibuat dari bahan bening, berserat dan kenyal. Lensa inilah yang disebut lensa mata atau lensa kristalin. Tebal lensa dikendalikan oleh otot siliari. Cahaya memasuki mata melalui iris menembus biji mata, dan oleh lensa difokuskan sehingga jatuh ke retina atau selaput jala.

Retina adalah lapisan serat saraf yang menutupi bagian belakang. Retina mengandung struktur indra-cahaya yang sangat halus disebut batang dan kerucut dan memancarkan informasi yang diterima saraf optik dan dikirim ke otak.

Ketika seseorang melihat benda yang jauh letaknya, maka otot siliari akan mengendor dan berakibat sistem lensa kornea berada pada panjang fokus maksimumnya yaitu kira-kira 2,5 cm (jarak dari kornea ke retina). Bila letak benda didekatkan maka otot siliari akan meningkatkan kelengkungan lensa sehingga mengurangi panjang fokusnya dan bayangan akan difokuskan ke retina. Proses perubahan kelengkungan lensa inilah yang disebut akomodasi.

Posisi benda terdekat di depan mata disebut dengan titik dekat. Jika benda lebih didekatkan ke mata maka lensa tidak dapat memfokuskan cahaya. Cahaya yang masuk tidak jatuh di retina maka bayangan menjadi kabur. Posisi titik dekat antara satu orang dengan orang lainnya berbeda-beda tergantung kesehatan matanya. Biasanya, posisi titik dekat akan berubah seiring bertambahnya usia. Misalnya ketika berumur 10 tahun titik dekatnya bisa saja pada jarak 7 cm dari mata, namun ketika berusia 60 tahun bisa berubah menjadi 200 cm di depan mata.

Proses pembentukan bayangan di retina diperlihatkan pada gambar berikut:

Bayangan yang ditangkap di retina adalah nyata, terbalik, dan diperkecil. Otak kitalah yang menerjemahkan sehingga kalau kita melihat suatu benda maka kita dapat melihat seolah-olah bayangan tegak dan tidak terbalik.

Tambahkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *